Semangat Korwil 3 Menyambut Bulan Kemerdekaan
18 View
Lubangsa_Jika pergi ke wilayah tiga, para santri akan disambut umbul-umbul merah putih digerbang pagar utama, jika masuk lebih dalam akan disuguhkan pemandangan yang tidak lazim di wilayah tiga, sandal-sandal rapi, bendera hias bergantung dari ujung selatan sampai utara, lebih-lebih gerbang hias dalam rangka menyambut bulan kemerdekaan republik Indonesia.
Pemandangan yang berubah drastis itu bukanlah tanpa sebab, inisiatif para santri di wilayah tiga lah yang melahirkan perubahan drastis tersebut. “Sebenarnya segala perubahan yang dilakukan diwilayah tiga ini merupakan inisiatif dari santri sendiri, hal itu disebabkan mereka ingin berubah dari komplek yang dikenal kotor dan kumuh menjadi komplek yang rapi,” ungkap Fahri Anggara Putra selaku koordinator pengurus Keamanan dan Ketertiban pada Kamis, 7 Agustus 2026.
Bahkan menurutnya, pengurus hanya memiliki andil yang kecil dalam perbaikan kondisi Wilayah 3 tersebut, malah lebih banyak santri. “Sesungguhnya perubahan ini dimulai dari santri sendiri, seperti pada saat rapat atau lebih tepatnya ngumpul-ngumpul kemarin untuk penertiban sandal, itu murni dari mereka seperti Basri dan Adlan, bahkan saya dijemput oleh mereka,”ucapnya.
Diantara proses untuk membuat komplek tiga itu baik dengan menyediakan umbul-umbul. Menurut Fahri pemasanag umbul-umbul itu juga dadakan, tanpa ada rapat sama sekali. Hanya ada beberapa sanrti wilayah tiga yang ngumpul-ngumpul kemudian tercetuslah ide untuk menghias wilayah yang dikenal dengan klan Uciha tersebut.
Diantara proses menghias itu, Basri dan kawan-kawan memasang beberapa umbul-umbul merah putih bergambar presiden Soekarno, hiasan diatap blok F, serta membuat Labeng Saketeng (gapura selamat datang) yang dihias denagn lampu-lampu LED. Menurut Adlan Penghiasan tersebut sudah berjalan cukup lama, sekitar 5 hari dan hampir selesai.
“kami mulai menghias ini sudah berjalan lima hari, dan alhamdulillah sampai sekarang sudah sampai 70% tinggal mau memasang lampu LED, umbul-umbul berpola zig-zag yang dibuat dari sampah gelas yang di cat merah putih serta pembuatan Labeng Saketeng,” ucapnya.
Penghiasan blok ini menggelontorkan dana yang cukup banyak, sehingga diperlukan dana yang cukup banyak pula. Tetapi karena ini merupaka insiatif santri mereka melakukan sumbangan dalam membuat ini.
“Karena penghiasan ini dadakan, kami tidak sempat mengadakan sumbangan kepada seluruh santri yang berukim di wilayah 3, jadi untuk sementara waktu kami masih melakukan sumabngn dari kantong pribadi dulu, nanti jika sudah selesai baru kami akan minta kepada santri,” ungkap Fahri.
Jika ditotal dari seluruh bahan yang dibeli, mulai dari bendera, umbul-umbul, lampu kabel, cat danhh lain sebagianyan biaya yang dihabiskan diprkirakan mencapai sekitar 1.000.000 Rp. “sampai saat ini kami menghabiskan dana sekitar sembilan ratus ribuan dari pembelian bendera, umbul-umbl serta cat, tapi itu masih belum dengam pembelian tali, lem dan lainnya, sehingga bisa diperkirakan jika sudah selesai ini bisa menghabiskan sekitar satu juta lebih, karena barang-banrang yang kami beli langsung dari Sumenep,” ungkap Adlan.
Penghiasan wilayah tiga tersebut dilakukan mulai dari depan aula Lubangsa, kantin Sufi sampai kamar mandi blok G, kecuali lembaga. Menurut Fahri lembaga sendiri memilik tanggung jwab serta hak sendiri dalam menghias kamarnya. “Perihal lembaga sepertii NTQ dan BPBAArab itu bukan masuk hitungan wilayah tiga, jadi kami tidak mintakan sumbangan karena saya sudah menyampaikan saat rapat dengan ketua lembaga kemarin-kemarin bahwa lembaga memilik hak penuh atas santrinya artinya saya rasa lembaga itu sudah bisa mengatur anggotanya sendiri,”ungkap Fahri.
Selain itu, Basri dan kawan-kawan juga merencanakan akan meaksanakan peringatan maulid nabi, sebelum liburan ini. “jadi selain itu rencana jangka pendek kami kedepanya itu melaksanakn maulid nabi, untuk acara-acara menyambut agustus an seperti lomba-lomba, kami masih belum berani melangkah sejauh itu,” jelas Basri.
Fahri berharap denagn adanya penghiasan wilayah tiga ini yang notabane nya merupakan inisiatif para santri ini bisa memicu santri di wialyah lain berlaku hal yang sama, “jadi saya harap wilayah 3 ini menjadi api pertama untuk menyalakan semangat santri lain diwilayah 1 dan 2, jadi jangan Cuma mengandalkan pengurus pesantren untuk mengadakan acara-acara yang bermanfaat demi kemjuan Lubangsa,” paparnya.
Selain itu dia juga berpesan agar bagi santri pendatang artinya santri wilayah lain yang ingin pergi ke wilayah 3, agar bisa ikut menjalani aturan yang berlaku diwilayah tersebut dan jangan merusak. “kebanyakan para santri pendatang yang merusak diwilayah 3 ini, seperti tidak merapikan sandal dan sebagianya, jadi saya harap mereka sadar dan ikut berpartisipasi dalm menjaga keasrian wilayah tiga,” ungkap Fahri.
| Penulis | : Risqi Nashrillah |
| Editor | : Tim Pers Lubangsa |