IA, CERMIN & KTP
7938 View
(Ada Cerita Luar Biasa dari Santri Baru)
Namanya berinisial A.P, asal Bekasi Jawa Barat. Barangkali dari sekian banyak cerita menarik yang ada di Lubangsa Putri, saya memilih untuk berbagi tentang kisahnya dengan kesederhanaan konten di media online ini.
Ia santri baru di Annuqayah Lubangsa Putri tahun ini. Layaknya santi baru kebanyakan, saat ini ia masih dalam tahap penyesuaian diri dengan lingkungan serba barunya. Ia setingkat perguruan tinggi, jadi INSTIKA akan menjadi tempat belajarnya kemudian. Namun yang menarik bukan hanya karena ia merupakan santri baru dari kejauhan Jawa Barat sana, meski hal ini juga menarik dalam narasi yang lain.
Ia seorang gadis metropolitan, benar-benar metropolitan, dengan life style serba modern yang tidak dibuat-buat. Bahasanya, pergaulannya, kebiasaannya, bahkan busananya. Begitulah gambaran sosok A.P dalam dunia nyata, dan inilah cerita tentang ia dan keputusannya untuk “nyantri” di Annuqayah Lubangsa Putri.
10 Juli lalu, seorang Ibu mengantar ia ke kantor pesantren, beliau bibi iparnya, katanya. Namun posisi beliau bukanlah sebagai “provokator” atas keputusan yang ia ambil, ia hanya sebagai “mediator”. Sebab tidak mudah memunculkan atau bahkan memaksanakan kehendak “nyantri” kepada seorang gadis sepertinya. Tidak hanya karena jarak yang terlampau jauh, namun dimensi kehidupan yang ia jalani selama ini, adalah gaya hidup yang sangat jauh berbeda dengan gaya hidup di pesantren. Namun pada akhirnya, keputusan untuk “nyantri” adalah pilihan yang ia kehendaki sendiri.
Berlatar belakang broken home, mengantar ia berjalan menuju rumah pamannya di Sumenep Madura. Meski tidak pernah tahu jalan dan lokasinya, gadis ini berangkat sendiri dan tanpa memberikan informasi, bahkan kepada pamannya ini. Terkejut, adalah ekspresi pertama yang ditunjukkan oleh seseorang yang ia panggil “paman”. Barangkali beliau tidak hanya terkejut atas kedatangannya yang tiba-tiba, wajah yang sedikit asing karena lama tidak berjumpa, dan setelan busana yang “tidak biasa”, adalah dua hal yang menambah tensi keterkejutannya.
Singkat cerita, setelah keterkejutan itu reda dan mulai ada keakraban dalam cengkerama ber jam-jam lamanya, tibalah pada topik tentang mau kemana ia melanjutkan studinya. Gadis ini blank, bingung, tidak sempat memikirkan hal itu, karena terlalu sibuk dengan pikiran yang membuatnya pening sesekali, kondisi keluarga saat ini.
Di tengah kebingungan itu, pamannya memberikan usul untuk bagaimana jika ia kuliah di Madura dengan beberapa pilihan universitas, sempat ia mempertimbangkan sejenak sebelum pilihannya berlabuh pada INTSIKA. INSTIKA, adalah perguruan tinggi yang ia pilih tanpa sedikitpun orientasi yang ia ketahui tentang kampus ini, yang ia tahu hanya satu, bahwa ia harus “dimukimkan di pesantren” jika ingin kuliah di INSTIKA, begitu kata sang paman kepadanya. Entahlah, ia paham atau tidak, tapi ia tidak merasa masalah dengan itu. Barangkali sudah jalannya, Lubangsa Putri kemudian menjadi pilihan sebagai “tempat mukimnya” selama akan menempuh studi di INSTIKA.
Kini, terhitung 6 hari ia ada di Lubangsa Putri. Dalam waktu 6 hari ini, ia membuat saya tertegun atas pemandangan yang luar biasa. Barangkali ada yang tidak saya narasikan dalam paragraf cerita di atas, bahwa dengan “nyantri” ia tidak hanya memiliki konsekuensi mengubah gaya busananya, namun “ternyata” ia harus belajar pula dari “nol” bab shalat dan ngajinya. Sejenak saya berbisik dalam hati, akankah ia berpikir untuk mengurungkan niat “nyantri” nya? Ternyata tidak, bahkan seperti tidak menyempatkan diri untuk “berpikir dua kali” sebelum iya benar-benar menandatangani persetujuan itu, dengan gerak tangan yang terlihat begitu ringan, tanpa beban.
Hingga hari ke7 ini, ia masih dalam proses belajar memakai kerudung, memakai sarung, bahkan memakai pakaian yang benar-benar akan menutup auratnya. Tidak cukup disitu, ia kini juga dalam proses belajar untuk membaca al-qur’an dari tahap “iqra’”, mulai belajar membiasakan diri mengerjakan shalat lima waktu dengan proses penyempurnaan bacaan shalat, dengan tanpa terlihat rona keberatan bahkan jengkel di wajahnya. Dan di senggang waktu yang masih begitau banyak jeda, dengan kepercayaan diri yang luar biasa, ia datang beberapa kali dalam sehari, meminta kesediaan untuk mengajarkannya “menulis arab”. Sekali lagi, segala proses pembelajaran ini, ia jalani tanpa ada sedikit pun rona “enggan” di wajahnya. Seperti tidak ada keterpaksaan, benar-benar terlihat tulus dan bersungguh-sungguh. Barangkali, konotasi dari kata “hijrah” sangat cocok untuk disandangkan kepadanya. Segala keawaman itu, bukan karena ia tidak mau dan tidak mampu. Sebab ternyata, ia termasuk gadis yang antusias dan cepat belajarnya.
Hingga detik ini ia masih belajar. Belajar tanpa ada rasa yang membuat ikhtiar ini berat dijalani. Dalam sebuah percakapan, ia berujar: “Barangkali, inilah jalan saya mb’, untuk belajar dan menyempurnakan status ISLAM di KTP saya”.
Sejenak, dalam detik tafakur yang singkat, ingin sekali saya melihat kembali status di KTP saya, dan mulai becermin mengamati diri, sebelum kembali menatapnya lekat, membayangkan, betapa luar biasanya jika kelak ia akan menjelma menjadi gadis yang benar-benar mampu menjaga auratnya, paham akan hukum-hukum Islam, mampu membaca al-qur’an dan menulis arab dengan baik dan benar, dan bahkan mampu membaca kitab kuning berikut hafal nadzam-nadzam pesantren di kemudian hari. Mari kita amini bersama. Amin.
Dan Annuqayah menjadi pesantren yang dipilih-Nya untuk menitipkan gadis ini sebagai amanah yang luar biasa. Bismillah, Subhānallāh, wal hamdulillāh, wa lāilāhaillallāhu wallāhu akbar. Semoga bermanfaat.
Penulis: Faizatin