Organisasi Daerah: dari Fanatisme menuju Nasionalisme
5958 View
Tulisan ini barangkali merupakan bagian dari ekspresi syukur saya telah mendapatkan kesempatan untuk mendiami pesantren tercinta, Annuqayah Lubangsa. Masuk sebagai orang asing tahun 2013 ke pesantren ini, pertanyaan pertama yang saya dapati adalah “kamu orda apa?”. Bukan lantas menjawab, saya justru kembali bertanya “apa itu orda?,” dengan jawaban singkat si penanya menjawab “Organisasi Daerah,” walaupun masih dengan tatapan penuh tanya karena jelas jawaban yang diberikan bukan menghilangkan kebingungan tapi justru menambah pertanyaan, saya hanya mengangguk. Hingga kemudian beberapa hari setelah itu, hari Jum’at tepatnya saya mengikuti kegiatan ngumpul bersama yang katanya ‘Kegiatan Ritinitas Orda’. Dari agenda ngumpul itu muncul pemahaman sederhana bahwa Orda adalah sekumpulan orang yang terorganisir dalam satu wadah organisasi dan berasal dari daerah yang sama, karena ternyata orang-orang nyang berkumpul dalam kegiatan itu adalah tetangga-tetangga dekat saya. he
Mengikuti beragam rutinitas pesantren hari-hari berikutnya, istilah Orda semakin sering saya dengar. Ketika salah seorang teman unggul di antara kami, pertanyaan yang muncul adalah ‘Dari Orda apa?’. ‘Betapa menguatnya kepemilikan terhadap Orda di pesantren ini,’ pikir saya saat itu yang juga mendorong keinginan tahuan saya terhadap apa yang sebenarnya dilakukan dalam Organisasi Daerah. Hingga akhirnya rasa penasaran dan keingintahuan itu terjawab tuntas satu tahun setelahnya, ketika saya diajak untuk turut serta menjadi bagian dari Ordais Lubangsa (pinjam istilah teman) di orda yang saya diami.
Sederhana namun sarat makna. Barangkali seperti itu simpulan yang pas mendeskripsikan Organisasi Daerah. Jika dikatakan bahwa pesantren adalah training of life, maka tak sah realisasi ungkapan itu tanpa melalui pengalaman ber-Orda. Ada banyak hal yang kemudian saya .pahami setelah turut masuk di dalamnya. Yang diajarkan tidak hanya kegiatan pengembangan wawasan, pelatihan keterampilan ataupun upaya-upaya mengasah kemampuan kepenulisan, ada nilai-nilai tersirat berupa ideologi kepesantrenan yang disisipkan, ada nilai nilai kemanusiaan pun arti penting dan makna kehidupan.
Melalui ketatnya tertib administrasi misalnya, kita diajak untuk disiplin, istiqamah, menepati kesepakatan dan teliti dalam perbuatan. Kerja tanpa pamrih pejuang-pejuang Orda juga merpakan sarana latihan mengukuhkan nilai ikhlas dalam setiap pekerjaan. Dengan ber-Orda kita juga belajar arti penting loyalitas, yang tak sebatas kata-kata namun berbentuk fakta, belajar bagaimana menghargai pendapat, menyatukan perbedaan juga mempererat tali kekeluargaan dan kesetiakawanan.
Ordais-ordais Lubangsa juga gigih menjaga dan mempertahankan citra dan integritas organisasi mereka dengan mendidik kader-kader organisasinya melalui kegiatan-kegiatan inspiratif dan inovatif. Tujuannya? Yang jelas agar nama ‘Orda’ mereka tetap terbaca. Menjadi organisasi yang mampu melahirkan kader-kader produktif, mencipkan citra positif bahwa ‘daerah kami pantas dibanggakan’.
Ada hal yang menarik dari fakta ini. Siapapun kamu (selagi pernah nyantri di Lubangsa) akan merasakan betapa fanitisme organisasi jelas terasa. Ketika persaingan intelektual antar santri terjadi, maka sebenarnya yang kita saksikan adalah persaingan antar Orda, karena yang bersaing adalah milik Orda. Memaknai sempit fakta ini memang cenderung negatif, karena yang tampak dari fanatisme adalah cenderung memandang lemah pihak lawan dan dan mengunggulkan ke-aku-an.
Pemahaman selanjutnya yang saya simpulkan, bahwa sebenarnya di sinilah titik pokok organisasi daerah. Pemetkan-pematakan berdasarkan kawasan daerah yang sama sebagaimana yang telah teraplikasi dalam Orda tidak hanya melahirkan generasi fanatik belaka, namun nyatanya mengajari kita makna dan arti penting kepemilikan, khususnya terhadap kampung dan tanah kelahiran.
Melalui kegiatan-kegiatan rutinitas yang dilaksankan bersama anggota organisasi yang notabene berasal dari kawasan daerah yang sama, kita hendak diingatkan bahwa kesejatian dari perjalanan ke pesantren ini adalah untuk tujuan yang mesti diupayakan bersama pula, yaitu kembali ke kampung halaman mengaplikasikan apa yang didapat serta memenuhi pengharapan banyak orang yang telah menitipkan masa depan daerahnya untuk kita yang dipercaya akan membawa perubahan, dan ini bukan hanya tugas satu orang melainkan bersama-sama, khususnya dengan mereka yang berasal dari satu kawasan daerah sama. Maka melalui Organisasi Daerah setidaknya kita tidak akan merasa sendiri dalam memikul beban tanggungjawab itu.
Ber-Orda sejatinya juga merupakan upaya menumbuhkan nasionalisme dalam ruang yang sempit, dan diharapkan akan melahirkan energi positif untuk mencetak kader-kader dengan jiwa nasionalisme tinggi, tidak hanya untuk kampung halaman melainkan dalam lingkup kenegaraan. Fanatisme-fanatisme itu diharapkan akan mampu menumbuhkan sikap dan sifat cinta tanah air, menjadi semangat melakukan perubahan menuju tatanan masyarakat yang lebih ber-peradaban, dengan memulai dari daerah sendiri. Dari sinilah kemudian aplikasi ‘hubbul wathan minal iman’ juga dapat kita terapkan, sebab kata hubb dalam pernyataan itu tak cukup hanya dengan ucapan melainkan butuih pertanggungjawaban. Tak cukup sekadar pemahaman namun harus pula diikuti perbuatan untuk menghasilkan perubahan.
Maka di sini pula nilai-nilai kepesantrenan dapat tersempurnakan, mengimbangi berbagai disiplin keilmuan yang tersampaikan melalui kaidah-kaidah kitab warisan serta wejangan-wejangan kebajikan penuh kebijkasanaan. Berjalan beriringan tanpan mendahulukan dan menindas sebagian. Al-muhâfadzatu ‘alâ qadîmisshalih wa al-akhdzu bijadîd al-ashlah.
#cintaOrda#cintaLubangsa#cintaIndonesia
Penulis: Fadlilatul Ayni