Merawat Tradisi Lewat Tajin Sappar
117 View
Lubangsa_Malam itu, terlihat lima orang sedang duduk melingkar di serambi masjid jamik Annuqayah bagian utara pada Jumat malam, 31 Juli 2026. Dengan tersaji beberapa tajin sappar di tengah-tengahnya, mereka membaca Al-Fatihah bersama dengan dipimpin oleh M. Zaky Al-Fuad, “Al-Fatihah,” serunya.
Usai berdoa, rombongan itu beranjak ke posko kunjungan untuk menyerahkan tajin tersebut kepada pengurus harian pesantren. Saat itu Rizki Salim, wakil ketua pengurus, menerimanya, yang diserahkan langsung oleh Ahmad Ramadhani—ketua Iksaputra.
Selanjutnya, tajin sappar didistribusikan ke berbagai kantor di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah (PPA) Lubangsa, termasuk Kantor Pesantren, Redaksi Muara, Pendidikan dan Pengembangan Keilmuan (P2K), sejumlah lembaga, serta kamar-kamar Iksaputra.
Kegiatan bagi-bagi itu dipegang langsung oleh pengurus Iksaputra sendiri yakni pengurus seksi Pendidikan dan Peribadatan (P2). Muhammad Abrori selaku koordinator menjelaskan pembagian tersebut memang sudah berjalan selama beberapa kali. “Setahu saya, program ini berjalan dua kali,” ungkap Abrori.
Abong—sapaan akrabnya—mengatakan bahwa pembagian tajin sappar bertujuan untuk mempererat hubungan dengan santri Lubangsa maupun pengurus pesantrennya.
“Agar tali silaturrahmi tetap terjaga, seluruh kantor juga kamar blok juga mendapatkannya,” jelas Abong.
Ia juga berkisah, semua tajin tersebut dibuat di rumah Ma’ Ramna, dengan melibatkan beberapa pengurus Iksaputra. Mereka memulainya pada sebelum salat Jumat dan selesai setelah waktu Asar.
“Awalnya, saya pikir, pembuatannya begitu sulit, ternyata setelah praktek, begitu mudah meskipun memakan waktu yang agak lama,” ungkap Abong.
Abong beralasan, mereka memilih Ma’ Ramna sebagai pemandu pembuatan tajin karena tidak memiliki relasi dengan pembuat tajin yang lain. “Taka da satu pun pengurus Iksaputra yang menyanggupinya,” jelasnya.
Ahmad Ramadhani, ketua Iksaputra masa bakti 2026-2027 M., berkata, program tersebut sangat bagus karena Iksaputra mengikuti tradisi masyarakat, “bagus, karena agar santri tahu bahwa ketika mereka turun ke masyarakat nantinya, mereka akan tahu bahwa ada tradisi tersebut,” jelasnya
| Penulis | : Farhan Amin |
| Editor | : Tim Pers Lubangsa |