Sanggar di Lubangsa hadiri Komunitas Lesbumi
72 View
Lubangsa_ Sejumlah sanggar di Pondok Pesantren Annuqayah turut berpartisipasi dalam pertemuan komunitas Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) yang digelar di Warung KancaKona, Kamis malam (5/8/2026). Dari lingkungan Lubangsa, sanggar Andalas menjadi salah satu perwakilan yang mengikuti kegiatan tersebut.
Selain Andalas, terdapat sejumlah sanggar lain di lingkungan Annuqayah yang tergabung dalam komunitas tersebut, di antaranya Sanggar Kotemang dari MA 1 Annuqayah dan Sanggar Saksi dari Latee. Meski demikian, tidak seluruh sanggar yang tergabung dapat mengikuti pertemuan kali ini.
Mufid Ary Muslih, senior sekaligus mantan Ketua Sanggar Andalas, mengatakan hanya tiga sanggar yang mengirimkan perwakilan. Setiap sanggar juga dibatasi dengan kuota tiga peserta di luar ketua sanggar.
“Tidak semua sanggar menghadiri acara tersebut, hanya tiga sanggar, yakni Sanggar Kotemang (MA 1 Annuqayah), Andalas (Lubangsa), serta Saksi (Latee), dan kuotanya hanya berjumlah tiga orang selain ketua sanggar,” ungkap Mufid.
Menurut Mufid, komunitas Lesbumi sempat mengalami kevakuman karena persoalan regenerasi. Pertemuan kali ini menjadi awal dari upaya menghidupkan kembali kegiatan komunitas dengan menjadikannya agenda rutin setiap bulan.
Ia berharap keberlangsungan komunitas tersebut dapat terjaga sehingga menjadi ruang untuk saling berbagi pengetahuan, metode berkesenian, serta mempererat hubungan antarsanggar.
“Harapannya, komunitas ini tidak mengalami kendala lagi sehingga kegiatan sharing metode dan lainnya dapat berjalan lancar, sekaligus menjadi ruang silaturahmi,” ujarnya.
Pertemuan tersebut diisi dengan penyajian materi, talkshow, dan diskusi antarpeserta. Sebagian besar peserta berasal dari lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah, termasuk sejumlah anggota sanggar yang baru mengikuti komunitas tersebut.
Muhibuddin, salah satu peserta, mengatakan materi yang disampaikan masih berkisar pada dasar-dasar dan teknik dalam berkesenian. Hal tersebut disesuaikan dengan kondisi peserta yang sebagian masih baru bergabung.
“Banyak peserta dari Annuqayah yang masih baru mengikuti komunitas tersebut, jadinya materi yang disampaikan hanya dasar-dasarnya saja dan beberapa sanggar dari Annuqayah sempat berbicara juga saat sesi diskusi,” ungkapnya.
Pertemuan berlangsung sekitar enam jam, dimulai pukul 19.30 hingga 00.00 WIB. Selain persoalan materi dan forum diskusi, keterbatasan waktu dan perizinan menjadi salah satu kendala bagi sebagian peserta yang tinggal di lingkungan pesantren.
Alga Firmansyah, Ketua Sanggar Gemilang, mengatakan dirinya mengalami kendala ketika hendak mengikuti kegiatan tersebut, terutama terkait perizinan keluar pesantren yang membutuhkan waktu, sementara waktu keberangkatan cukup mepet.
| Penulis | : Moh. Nurul Mukhlishin |
| Editor | : Tim Pers Lubangsa |