Kiai Rijal Mumazziq Z: Berlarilah Sesuai Potensi,Kembangkan Bakat dan Berikan Manfaat
18 View
Lubangsa_Kiai sekaligus akademisi asal Kencong, Jember, Dr. H. Rijal Mumazziq Z., M.H.I., menegaskan pentingnya setiap individu untuk mengembangkan potensi diri tanpa harus dipaksakan memiliki kemampuan yang sama. Pesan tersebut ia sampaikan dalam ceramah pada acara Dikra Al-Maulidi An-Nabawiy yang diselenggrakan oleh Pengurus Takmir Masjid Jamik Annuqayah berkolaborasi dengan Kompolan Bhindhara Sadulur Sumenep (KOPISUSU) yang membahas kehidupan pesantren, kecintaan kepada Rasulullah saw, serta peran santri di tengah masyarakat.
Rijal Mumazziq Z. dikenal sebagai akademisi dan tokoh pesantren di Kencong, Jember. Universitas Al-Falah As-Sunniyah (UAS) mencatat bahwa ia saat ini menjabat sebagai Rektor UAS periode 2026–2030. Sebelumnya, ia juga aktif sebagai narasumber dalam berbagai kegiatan akademik dan dakwah.
Dalam ceramahnya, Rijal menyoroti kekuatan Komunitas Kopi Susu yang ia sebut sebagai paguyuban para masyaikh muda tapi memiliki kedalaman ilmu. Meski tidak berbentuk organisasi struktural, komunitas tersebut dinilai telah memberi warna dalam kehidupan keislaman Ahlussunnah wal Jamaah di Sumenep dan Madura. Menurutnya, model komunitas seperti ini justru lebih efektif jika dibiarkan berjalan secara fleksibel tanpa terlalu diformalkan setiap manusia mempunyai potensi yang berbeda yang sebaiknya dikembangkan sesuai kemampuan masing masing.
“Tidak semua perkumpulan harus dibentuk menjadi organisasi yang kaku. Yang terpenting adalah bagaimana setiap orang bisa berkontribusi sesuai potensi yang dimilikinya dan saling melengkapi satu sama lain,” ungkap Kiai Rijal.
Gagasan tersebut kemudian ia kaitkan dengan filosofi “taktik tanpa taktik” pemain hebat tidak selalu membutuhkan aturan yang terlalu ketat. dalam sepak bola, yang menekankan bahwa setiap individu memiliki bakat, karakter, ego, dan potensi yang berbeda. Karena itu, tidak tepat jika semua orang dipaksa mengikuti pola yang sama. Tantangannya adalah bagaimana perbedaan tersebut disatukan menjadi kekuatan kolektif tugas kelompok adalah menyatukan berbagai potensi tersebut dalam sebuah harmoni. prinsip ini kemudian diterapkan kepada santri: jangan memaksakan semua orang memilikli kemampuan yang sama.
“Jangan memaksa semua orang menjadi sama. Yang diperlukan adalah bagaimana bakat yang berbeda-beda itu diracik, egonya dikendalikan, lalu disatukan dalam sebuah kerja sama,” tuturnya.
Setiap santri memiliki potensi, bakat, dan karakter yang berbeda. Karena itu, santri tidak perlu dipaksakan untuk memiliki kemampuan yang sama. Hal tersebut disampaikan Dr. H. Rijal Mumazziq Z., M.H.I. dalam ceramahnya yang mengangkat tema kecintaan kepada Rasulullah saw, peran pesantren dalam meneruskan risalah Nabi, serta pentingnya pengembangan potensi santri.
Dalam ceramahnya, Kiai Rijal menjelaskan bahwa perbedaan potensi merupakan sesuatu yang harus dihargai dan dikembangkan. Menurutnya, pendidikan pesantren tidak semestinya menyeragamkan kemampuan setiap santri. Sebaliknya, pesantren perlu memberikan ruang agar setiap santri dapat menemukan dan mengembangkan bakat yang dimilikinya.
“Setiap orang mempunyai potensi yang berbeda. Ada yang kuat dalam ilmu, ada yang kuat dalam hafalan, ada yang memiliki kemampuan fisik, suara, atau bidang lainnya. Jangan semua dipaksa menjadi sama,” ungkap Kiai Rijal, penceramah dalam kegiatan tersebut.
Ia kemudian mengaitkan hal itu dengan keteladanan para sahabat Rasulullah. Para sahabat memiliki keunggulan masing-masing. Abu Bakar dikenal penyayang, Umar bin Khattab kuat dalam amar makruf nahi mungkar, Mu’adz bin Jabal ahli dalam persoalan halal dan haram, Zaid bin Tsabit dikenal ahli ilmu waris, Ubay bin Ka’ab ahli Al-Qur’an, sedangkan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dikenal sebagai sosok yang terpercaya.
Menurut Kiai Rijal, perbedaan tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak menyeragamkan potensi para sahabat. Masing-masing berkembang sesuai keunggulannya dan memberikan manfaat melalui bidang yang dikuasai.
“Rasulullah saw tidak menyeragamkan para sahabat. Masing-masing memiliki keunggulan dan tempat pengabdiannya. Begitu juga santri, jangan dipaksa menjadi seperti orang lain. Temukan bakatmu dan kembangkan sesuai kemampuanmu,” tuturnya.
Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu, Selain berbicara tentang potensi santri, Kiai Rijal menyinggung pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu. Pengalamannya ketika tidak mampu berbahasa Madura saat berada di Sumenep menjadi contoh bahwa perbedaan bahasa dapat menjadi hambatan dalam komunikasi.
Menurutnya, bahasa Indonesia menjadi jembatan bagi masyarakat yang berasal dari berbagai daerah dan memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Hal tersebut sejalan dengan semangat Sumpah Pemuda yang menempatkan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.
Bahasa Indonesia, lanjutnya, bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat.
Umat yang Dirindukan Rasulullah saw.
Dalam materi Maulid Nabi, Kiai Rijal juga menyampaikan hadis yang diriwayatkan dari Anas bin Malik mengenai kerinduan Rasulullah saw, untuk bertemu dengan “saudara-saudaranya”. Ketika para sahabat bertanya apakah mereka yang dimaksud, Rasulullah saw menjelaskan bahwa para sahabat adalah sahabat beliau. Sementara saudara-saudara beliau adalah orang-orang yang beriman kepada beliau meskipun belum pernah bertemu langsung dengan beliau. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa umat Islam yang hidup jauh setelah masa Rasulullah saw tetap memiliki ikatan iman dengan beliau. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah saw perlu diwujudkan melalui keimanan, keteladanan, dan pengamalan ajaran beliau.
Pesantren sebagai Penerus Risalah Nabi, Kiai Rijal memandang pesantren sebagai bagian dari perjuangan meneruskan risalah Rasulullah saw. Para ulama menyambung ajaran Nabi melalui pendidikan, ilmu, dan pengamalan sunnah. Karena itu, menjadi santri tidak cukup hanya menjadi pribadi yang saleh. Santri juga diharapkan menjadi muslih, yakni pribadi yang mampu memberikan manfaat dan ikut memperbaiki kehidupan masyarakat. Ia juga mengingatkan kebanggaan menjadi santri Annuqayah. Menurutnya, alumni pesantren telah berkiprah dalam berbagai bidang, mulai dari menjadi dosen, bekerja di Kementerian Agama, hingga mengajar di berbagai pesantren.
“Kita berharap dari pesantren lahir bukan hanya orang-orang yang saleh untuk dirinya sendiri, tetapi juga orang-orang yang muslih, yang mampu memberikan manfaat dan memperbaiki keadaan masyarakat,” ujar Kiai Rijal.
Pengorbanan Santri dan Orang Tua, Menjadi santri, menurut Kiai Rijal, membutuhkan kesabaran dan pengorbanan. Santri harus rela meninggalkan kenyamanan rumah, orang tua, saudara, dan kebiasaan sehari-hari. Di sisi lain, orang tua juga harus rela menitipkan anaknya untuk menuntut ilmu di pesantren. Kesedihan dan air mata ketika berpisah diharapkan kelak berubah menjadi kebahagiaan ketika orang tua melihat anaknya berhasil menjadi orang berilmu dan bermanfaat. Dalam ceramahnya, Kiai Rijal juga menyampaikan kisah Sutopo atau Haji Mustofa yang istiqamah membantu ulama, pesantren, dan santri. Dari keluarganya kemudian lahir ulama besar, KH Bisri Mustofa dan KH Misbah Zainal Mustofa.
”Kisah tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa mencintai ilmu, ulama, serta membantu perjuangan pendidikan Islam dapat menjadi salah satu jalan datangnya keberkahan bagi keluarga dan keturunan”
Pengabdian Tidak Harus dengan Harta, Kiai Rijal juga menegaskan bahwa pengabdian kepada agama dan pesantren tidak selalu harus dilakukan dengan harta. Setiap orang dapat memberikan kontribusi sesuai dengan apa yang dimilikinya. Orang yang memiliki harta dapat bersedekah dengan hartanya. Orang yang memiliki tenaga dapat memberikan tenaganya. Sementara orang yang memiliki ilmu dapat mengabdikan ilmunya. Waktu, pikiran, dan keterampilan juga dapat menjadi bentuk pengabdian.
“Jangan berpikir bahwa berjuang itu hanya dengan uang. Kalau punya harta, berikan harta. Kalau punya tenaga, berikan tenaga. Kalau punya ilmu, berikan ilmu. Semua orang mempunyai sesuatu yang bisa disumbangkan,” ungkapnya.
Dengan demikian, setiap santri memiliki kesempatan untuk berkontribusi sejak sekarang tanpa harus menunggu memiliki kedudukan atau kekayaan tertentu.
Berlarilah Sesuai Potensimu, Menurut Kiai Rijal, pesantren idealnya mampu membantu santri menemukan potensi dirinya. Santri yang memiliki kemampuan matematika dapat mengembangkan matematika. Mereka yang kuat dalam hafalan dapat diarahkan pada Al-Qur’an, hadis, atau nazam. Sementara santri yang memiliki kecerdasan kinestetik, kemampuan vokal, maupun bakat lainnya juga perlu mendapatkan ruang untuk berkembang. Potensi tersebut kemudian harus dipadukan dengan kemampuan bekerja sama. Santri tidak hanya dituntut mengembangkan bakat, tetapi juga belajar mengendalikan ego dan menghargai kelebihan orang lain. ”Kiai Rijal berharap pesantren dapat melahirkan berbagai macam manusia yang bermanfaat, baik ulama, atlet, profesor, pengasuh pesantren, diplomat, aparatur negara, maupun pemimpin masyarakat.
“Berlarilah sesuai potensimu. Kembangkan bakatmu. Racik egomu, kemudian bergabunglah bersama kawan-kawanmu sehingga kamu menemukan bakat dan watak aslimu,” pungkas Kiai Rijal.
Pesan tersebut menjadi benang merah ceramahnya: santri tidak harus menjadi sama untuk dapat bermanfaat. Setiap santri perlu menemukan potensinya, mengembangkan bakatnya, mengendalikan egonya, kemudian menggunakan kemampuan tersebut untuk mengabdi kepada agama, pesantren, masyarakat, dan bangsa.
| Penulis | : Moh. Nurul Mukhlishin |
| Editor | : Tim Pers Lubangsa |