Sempat Tertunda, Bimbingan Penulisan Berita Sukses Terlaksana
7119 View
Untuk meminimalisir banyaknya kekeliruan dalam penulisan berita, kru Kabar Asyik Mingguan Ikstida (KAMI), maka kru berinisiatif untuk mengadakan bimbingan menulis berita. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Senin malam (17/10) dengan mendatangkan Abd. Muqsith, senior sekaligus salah seorang penggagas terbitan selebaran KAMI. Kegiatan yang sempat direncanakan akan dilaksanakan pada Jumat (14/10) pagi itu, ditempatkan di serambi Masjid Jamik Annuqayah bagian Selatan.
Tepat pukul 21.30 WIB, kegiatan tersebut dimulai. Subaidi Barma, Ketua Ikstida, juga turut hadir dalam kegiatan tersebut. Agar tidak terkesan terlalu resmi, Muqsith, sapaan akrab Abd. Muqsith, langsung membuka bimbingan dengan menjelaskan beberapa hal terkait dengan dunia jurnalistik, seperti macam-macam berita, unsur-unsur berita yang tak boleh ditinggalkan, dan lainnya.
Setelah dirasa telah cukup dalam menjelaskan mengenai berita, mantan pengurus Divisi III Ikstida itu melihat beberapa arsip KAMI terbitan periode sekarang, baik yang diterbitkan putra maupun putri. Ia mengatakan bahwa KAMI dalam penerbitan ke depannya, harus lebih baik lagi dalam segi sistematika penulisannya. “Makanya, kali ini kita belajar bersama demi kebaikan selebaran tercinta kita ini ke depan,” kata senior yang biasa dipanggil Bang Ucith itu.
Santri asal Gapura itu juga menambahkan, memang sebenarnya wajar saja jika tulisan berita kru KAMI masih butuh perbaikan. Itu jika dilihat dari adanya pelatihan jurnalistik yang tidak pernah dilaksanakan oleh Ikstida, setidaknya sejak ia masuk di Ikstida, 2011. Karenanya, baginya, hal ini dapat dimaklumi. Akan tetapi, meskipun itu dianggap wajar, tapi tidak bisa dibiarkan begitu saja. “KAMI ini kan bukan hanya dibaca anggota Ikstida saja, tapi banyak santri yang bukan dari Ikstida. Jadi, kalian harus bisa memberikan yang terbaik kepada mereka,” ujarnya.
Setelah itu, dilanjutkan dengan sharing mengenai permasalahan yang dihadapi teman-teman kru dalam menulis berita. Berbagai hal disampaikan oleh reporter KAMI yang bergantian bertanya lalu ditanggapi oleh pembimbing. Akhirnya, bel jam tidur menjadi penanda kegiatan malam itu akan diakhiri.
Akan tetapi, sebelum bubar, masih terjadi bincang-bincang santai di antara kru KAMI dan pembimbing. Di sela-sela bincang-bincang tersebut, Muqsith menyoroti tentang berbagai tulisan yang berbau asmara dan percintaan di selebaran KAMI. “Hal itu sudah diwanti-wanti dan diperhatikan sejak masa saya dulu. Jadi sekarang saya tegaskan sekali lagi kepada kalian, KAMI adalah wadah kreativitas, bukan wadah asmara. Murni kreativitas,” jelasnya.
Tidak lupa, ia juga menyoroti tentang kata-kata para tokoh yang biasa ditulis di bagian bawah perhalaman selebaran KAMI. “Untuk kata-kata para tokoh di bawah itu, jelas, tidak boleh diberi tulisan yang berbau perasaan, percintaan, keperempuanan, kelaki-lakian, kecantikan, ketampanan, dan sejenisnya. Tidak boleh, ya. Jangan lupa. Tolong ini juga sampaikan ke kru putri, biar sama-sama terjaga dan terbit dengan baik dan benar,” tegas santri yang sebentar lagi akan diwisuda itu.
Penulis : Nur Mahmudi
Editor : Abd. Muqsith