Bersama D. Zawawi Imron; (Ngaji Kemendekaan RI- 27 dan Perjuangan Suhada K. Abdullah Sajjad, Pondok Pesantren Annuqayah)
7740 View
Lubangsa_Empat hari setelah perayaan kemerdekaan RI 27, Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa mendapatkan surat permohonan utusan untuk menghadiri kegiatan Haul Suhada K. Abdullah Sajjad, yang dilaksakan oleh MWC. NU Guluk-Guluk, di Lapangan Kemisan, Guluk-Guluk, Sumenep, Senin (21/7).
Ketua pengurus Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, Mashuri Drajat langsung tanggap dengan datangnya surat permohonan utusan tersebut. Pihaknya, mengutus 10 santri untuk menghadiri kegiatan tersebut.
“Sepuluh orang yang kami utus, harus ada sebagian dari pengurus pesantren, agar mendampingi dan memantau santri,” ungkap Huri, sapaan akrab Mashuri Drajat di depan kantor pesantren.
Moh. Hosni, Mantan Presiden Mahasiswa (Presma) Instika, 2016-2017, salah satu santri Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa yang mendapat tugas untuk mengahari kegiatan Haul Syuhada’ menjelaskan, kegiatan tersebut layak mendapat respon positif dari berbagai pihak, termasuk masyarakat pesantren. “Sebagai santri, kegiatan semacam ini ke depannya memang harus dapat diresepon dengan baik oleh pesantren, termasuk kegiatan lain untuk ke depannya,”ujarnya sebelum berangkat.
Lokasi kegiatan yang ditempati tidak jauh dari Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa, butuh 5-7 menit untuk sampai ke lokasi. Sepuluh santri langsung bergegas dengan barpakaian putih.
Dari jarak kejauhan, sekitar 200 meter, sudah terdengar suara sound system dan sorot lampu menerangi tempat kegiatan itu. Tidak pelak, saat sampai di lokasi, para undangan sudah memadati tenda yang disiapkan panitia, tempat duduk pria di bagian sisi barat, dan wanita di bagian sisi timur.
Rombongan dari Pondok Pesantren Annuqayah daerah Lubangsa langsung dipersilakan masuk oleh resepsionis, tidak jauh dari panggung, di situlah kami duduk bersila berbaur dengan ribuan masyarakat dan para santri utusan pesantren se Kecamatan Guluk-Guluk.
Badrul al-Rozi, perwakilan panitia yang berkesempatan memberikan sambutan menjelaskan maksud dan tujuan diadakan kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu sudah kedua kalinya dilaksanakan. Tidak lain, untuk mengenang perjuangan sosok K. Abdullah Sajjad (Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Red) yang gugur di medan perang melawan Belanda.
“Meski perjuangan Kiai Abdulah Sajjad, tidak tercatat dalam sejarah Pahlawan Nasional. Bagi santri dan masyarakat Guluk-Guluk harus selalu dikenang sejarah perjuangan beliau. Dia seorang santri, Kiai, ulama dan pahlawan bangsa ini. Di tempat ini, beliau gugur ditembak oleh penjajah Belanda,”ungkapnya deng berapi-api.
Selain itu, kegiatan tersebut diadakan sebagai bentuk kritik terhadap beberapa kegiatan perayaan kemerdekaaan RI ke-72 yang dilaksankan pemerintah Kecamatan Guluk-Guluk. Menurut Badrut kegiatan yang diadakan oleh kecamatan tidak memcerminkan perjuangan K. Abdulah Sajjad.
“Besar harapan kami (MWC NU Guluk-Guluk dan Banom NU, red.) kegiatan semacam ini mendapat respon dan dukungan dari pihak kecamatan. Dan untuk perayaan kemerdekaan RI selanjutnya, pihak kecamatan bisa memasukkan kegiatan ini pada serangkaian kegiatan tujuhbelasan, termasuk ziarah kubur ke K. Abdullah Sajjad di Pemakaman Pondok Pesantren Annuqayah,” tegas Badrul, sebelum mengakhiri sambutanya.
Sutrisno, Camat Guluk-Guluk, dalam sambutannya memberikan apresiasi penuh kegiatan atas tersebut. Pihaknya, mengaku siap mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut pada perayaan selanjutnya. Bahkan ia menilai, bentuk kesadaran masyarakat Guluk-Guluk terhadap kemerdekaan RI dapat diajukan jempol. “Kami bersama Kapolsek dan Kodim bergerilia ke sejumlah desa di Guluk-Guluk, ternyata di depan rumah warga sudah banyak yang terkibar bendera merah putih,” ujar Sutrisno.
Ia juga menabahkan, masyarakat tidak usah ikut-ikutan dengan maraknya paham atau aliran-aliran baru seperti terorisme yang mengancam keutuhan NKRI dan Pancasila. “Saya menghimbau agar masyakat lebih hati-hati dengan munculnya paham-paham yang bermuculan seperti terorisme, radikalisme dan lain-lain,”harap camat yang baru menjabat tujuh bulan itu.
Camat yang berperagakan gemuk itu, menutup sambutannya dengan tembang dan papareghan (sastra Madura) membuat para hadirin bertepuk tangan dan tertawa terbahak-bahak sekaligus kagum.
Selang beberapa detik, KH. D. Zawawi Imron, Seniman dan Budayawan Nasional menyampaikan orasi kemerdekaan di depan hadirin. Baginya, perjuangan Indonesia tidak bisa hilang dari perjuangan para santri dan kiai.
Zawawi—sapaan D. Zawawi Imron—menjelaskan bahwa tiga abad lebih bumi Indonesia dijajah oleh Belanda, atas perjuangan para mujahid seperti Sultan Khairul, Sultan Antasari, Tengku Umar, Cut Nyak Dien, Imam Bonjol, Raden Intan, Sultan Ageng Tirtasa, Pangeran Diponegoro dan K. Hasyim Asy’ari adalah sederet kiai yang berjuang merebut tanah pertiwi dari penjajah.
Ia juga menerangkan tentang perjuangan K. Hasyim Asy’ari tentang resolusi jihad. Resolusi jihad yang digagas dari sosok pendiri Nahdatul Ulama (NU) di dalamnya memuat tentang wajib hukumnya membela Tanah Air dan mati dalam memperjuangkan tanah air termasuk mati jihad fisabilillah.
“Resolusi jihad menginspirasi perlawan Bung Tomo di Surabaya, dan tidak heran berkat perjuangan dalam Resolusi Jihad dicetuskannya Hari Santri Nasional pada tahun 2015 kemarin,”papar budayawan asal Batang-Batang, Sumenep.
Lebih lanjut, sosok penulis puisi Rembulan yang Tertusuk Ilalang dan Madura Akulah Darahmu itu memaparkan makna lagu Hubbul Wathan Minal Iman (cinta tanah air adalah sebagian dari iman) yang menyiratkan bumi Indonesa adalah hak warga Indonesia. ”Bumi yang di tempati kita adalah bumi Indonesia, Air yang diminum kita adalah air Indonesia, udara yang dihirup kita adalah udara Indonesia, dan berbuat baiklah pada bumi Indonesia,” ungkap Zawawi dengan nada puitis.
Bagi Zawawi, bumi Indonesia yang indah bagai beledu berwarna biru, bak bunga mawar merah dan melati yang mekar di embun pagi hari, serta ombak putih terhempas bersama angin dan lambaian janur kelapa di bibir pantai menunggu nelayan yang berlayar. Sehingga ia mengutip perkataan Abdurahman Wahid (Gus Dur) tentang kata indah. ”Gus Dur membagi Indah menjadi dua. Pertama indah dipandang mata, seperti bunga, cantik dan ganteng. Kedua, indah menurut hati, ini adalah akhlaqul karimah santri,” ungkapnya dengan semangat.
Kiai yang dipercaya menjadi pengarah film Sang Kiai itu berharap agar Tanah Air Indonesia harus diurus dengan akhlaqul karimah. “Dan dalam kegiatan ini, inspirasi yang dapat diperjuangkan oleh generasi selanjutnya adalah spirit perjuang K. Abdullah Sajjad. Jejak ini, aku tinggal di Annuqayah Guluk-Guluk, Senyummu aku bawa pulang,”pungkasnya mengakhiri orasi kemerdekaan.
Usai kegiatan itu, kami beserta santri-santri di daerah lain pergi meninggalkan acara, berjalan kaki, melewati jalan raya yang tidak sepi dari ratusan mobil dan sepeda motor.
Penulis : Misbahul Munir
Editor : Jamalul Muttaqien