Esto Lubangsa 2019
4122 View
Lubangsa Putri– Tahun baru Islam 1441 disambut antusias oleh para santri PP. Annuqayah Lubangsa Putri (PPA. Lubri). Dari kegiatan doa, khatmu al-quran yang di laksanakan oleh pengurus PPA. Lubri hingga beragam kegiatan buka bersama yang diselenggarakan dari organisasi yang ada di PPA. Lubri.
Namun, puncak paling meriahnya, pada Selasa (10/09). Sudah menjadi agenda dua tahun terakhir PPA. Lubri untuk menyelenggarakan kegiatan baksos yang berbentuk santunan fakir miskin dan anak yatim yang disebar ke seluruh kawasan Sumenep–Pamekasan melalui organisasi daerah (Orda) dengan didampingi langsung oleh pengurus Harian Pesantren dan Pengurus Seksi Pembinaan dan Pengembangan Organisasi (P2O).
Kafilah Esto lubangsa 2019 yang startnya di halaman Lubri yang akan menuju kota mereka masing-masing. Kekompakan dari masing-masing orda serta persiapan bakti sosial yang telah jauh-jauh hari terselenggara itu, membuat persiapan esto lubangsa semakin matang persiapannya. “ Kalau baksos ini, sudah kami siapkan jauh sebelum muharam 1441 H tiba. Kami bukan hanya mendapat bantuan dari seluruh santri lubri, namun kami dapatkan juga dari alumni. Di sini, bukan hanya berupa sembako dan peralatan sekolah, melainkan juga pakaian atau alat salat untuk mereka”. Ujar Koord. P2O, Hikmatul Jannah.
Melalui kegiatan pesantren ini hendak menunjukkan rasa kepeduliaan serta menunjukkan peranan Pesantren tidak hanya di bidang pendidikan dan keislaman namun, juga di bidang soaial. “Mereka akan paham bagaimana membagi syukur dengan berbagi”. Ungkap Ketua Orda Persatuan Santri Lenteng (Persal), Luluatul Kamaliyah.
[caption id="attachment_4500" align="aligncenter" width="300"]
Pada kegiatan Esto Lubangsa ini, tidak hanya menyebar di satu daerah melainkan 5 daerah dari satu wilayah mereka masing-masing (Persal, Iksagg, Ikstida, Iksaputra dan Iksapansa).
Cerita haru, dari berbagai daerah mereka masing-masing juga menjadi catatan perjalanan penting bagi setiap santri dari yang mereka santuni. “kalau yang paling haru, ada seorang ibu yang kurang sempurna anggota tubuhnya, beliau ditakdirkan untuk tidak memiliki sepasang kaki. Beliau hidup sendirian, dengan kondisi rumah yang sempit dan kurang layak dipakai. Tapi, ia tak pernah bosan untuk beribadah. Sehingga banyak pelajaran yang dapat saya ambil”. Ujar, mantan ketua Ikstida 2017, Roydatun Nisa’.
[caption id="attachment_4507" align="aligncenter" width="300"]
Hal sama yang diceritakan mantan ketua Iksapansa, Nurul Iman “kalau di daerah yang kami datangi, itu hidupnya hampir sama dengan yang saudari Roy ceritakan namun, beliau kalau makan tergantung kepada tetangga dan hasil jual kayu yang beliau cari dari kebun di dekat rumahnya”.
[caption id="attachment_4508" align="aligncenter" width="300"]
Sementara cerita lain dari Orda Iksagg, “sesampainya di sana kami mendapati seorang bapak tua yang menangis menyambut kedatangan kami. Beliau bercerita dulu, ia termasuk salah satu santri yang mengiringi Alm. Drs. KH. Abdul Warits Ilyas untuk membagi-bagikan baksos kepada kaum duafa, namun sekarang sebaliknya”. Ujar ketua Iksagg, Finnatul Jamil.
[caption id="attachment_4510" align="aligncenter" width="300"]
“yah, dari berbagai cerita menjadi catatan penting bagi kita untuk lebih sadar akan nikmatnya takdir Tuhan, tidak merasa minder pada pemberian Tuhan kepada orang lain”. Kata Nuri Khalisatin Nafisah menimpali.
Penulis: Zakiyatul Miskiyah
Editor: Nur Fadiah Anisah